Komunikasi Takziah

Komunikasi Takziah

Sebelum menjadi pembicara internet marketing, saya berkata pada ibu, “Simbok sabar ya, dilit kas uripe awake dewe bakal luweh kepenak.”

Kata-kata tersebut saya sampaikan pada ibu lantaran waktu itu ibu saya sedang sakit. Di waktu itu pula, saya melihat perkembangan website saya begitu cepat sehingga dari segi ekonomi harapannya akan jauh lebih baik.

Namun, belum sempurna saya menjemput kesuksesan, ibu sudah dipanggil terlebih dahulu. Innalillahi wainnailaihi rojiun…

Badan rasanya panas dingin. Hampir seluruh badang rasanya demam. Di hari pertama, malam hari saya mencoba untuk kuat. Saya masih biasa-biasa saja seakan-akan tidak kehilangan siapa-siapa.

Mungkin itu karena hari pertama. Hari ketika aku harus mau tidak mau menyadari siapa yang pergi dan siapa yang ditinggalkan. Saya masih biasa-biasa saja. Saya masih sanggup berkomunikasi dengan banyak orang.

Hari Selanjutnya

Besoknya, hati yang lapang mulai mengerut. Saya benar-benar telah kehilangan seorang ibu. Bagaikan sayap seekor burung, satunya telah patah.

Setiap saya melihat orang-orang yang takziah di hari kedua, pikiranku benar-benar kosong. Sempat diajak berbicara, namun selalu tidak nyambung. Bahkan, beberapa wajah yang belum ketemu, namun akrab di media social sampai kelupaan dia dari mana dan siapakah dia.

Komunikasi Takziah

Banyak hikmah yang saya alami ketika mengalami kehilangan seseorang. Salah satunya adalah komunikasi takziah. Bagi yang belum mengerti, barangkali hal ini tidak berarti. Namun, marilah kita sama-sama membuka pikiran dan hati.

Takziah sebaiknya dilakukan di hari ketika sebelum pemakaman. Andaikan terpaksanya tidak bisa di hari H, lebih baik berkunjung sebentar lalu menyampaikan apa yang perlu disampaikan.

Beberapa komunikasi yang tepat terkadang membuat kita hilang perasaan hati. Bayangkan, orang yang berduka ditinggal orang terkasih, namun beberapa orang malah memberikan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan. Bak wartawan kehausan warta.

Biarkan mereka yang ditinggal menyendiri terlebih dahulu. Jangan diganggu. Jangan beri dia pertanyaan. Diam dan ikutlah berduka. Jadilah sandaran bagi dia, bukan berempati namun sebenarnya menusuk perlahan-lahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *